Lituhayu begitu mulai minum susu UHT/Pasteurized Milk keliatannya oke oke aja. Suka dan nggak rewel. Tapi, pupinya yang biasanya 2-3 kali sehari jadi 4-5 kali sehari. Pas setelah habis minum susu. Diaper area juga merah merah. Kalo kata eyangnya "Nggak cocok susunya, musti dicari yang cocok"
Kemarin konsultasi ke Bu Dokter.
Ternyata, merah-merah di area diapernya bukan penunjuk alergi ataupun lactose intolerance. Pure diaper rash. Karena, biasanya lactose intolerance atau alergi itu merah-merahnya sebadan dan bulet-bulet. Tapi, penunjuk lactose intolerance yang sebenarnya adalah pupinya yang 5-6 kali itu.
Ternyata ada untungnya juga loh masih menerapkan 4 days rule walau anak sudah lepas MPASI 1 tahun. Coba kalo nggak, nggak ketauan kan Lituhayu ternyata lactose intolerant . Makanya nggak sedikit juga yang tau anaknya lactose intolerant ketika anaknya udah agak gede atau bahkan tau kalo dirinya lactose intolerant ketika udah dewasa. Kasian kan, habit minum susu-nya harus dikurangin padahal udah kebiasaan? Belum lagi jadi selama ini sebenernya tubuhnya nggak bisa mencerna keping-keping gula susu itu?
Anyway, ini penjelasan Bu Dokter.. Siapa tau berguna :)
Q: Dok, jadi sebaiknya gimana?
A: Kita coba lagi. Dua minggu dari sekarang, tunggu sampai bersih dulu rash-nya baru dikasih UHT sedikit dulu. Itu kalau masih mau susu tambahan. Kalau nggak juga nggak papah kok. Kan kalsium bukan cuma dari susu.
Q: Oh gitu dok? Dari mana aja?
A: Produk turunannya. Yoghurt, keju, dan sayur hijau.
Q: Berapa banyak?
A: Dengan asumsi ASIP siang dan ASI langsung malam hari bisa 250ml ASI. Jadi kejar sisanya 250ml dari produk turunan. 1x yoghurt, 1x keju.
Q: Dok, tapi ASIP siang saya kayanya cuman 30ml deh. Kan kata dr. Azen cuma boleh pompa sekali.
A: Kalo gitu, keju-nya 2x deh.
Q: Kalo susu formula dok? Kata eyangnya suruh cari yang cocok aja.
A: *senyum* Susu Formula itu yang paling nggak recommended. Mendingan nggak pake susu sama sekali. Pertama, susu formula itu tidak steril. Kedua, susu formula itu dari susu sapi yang dikeringkan dalam proses yang lama dan dikeringkan. Itu kandungan di susu-nya sudah berkurang. Makanya ditambahkan zat-zat lain yang sifatnya kimiawi.
Q: Ooo.. Masalahnya, anaknya kalo mau tidur cranky deh dok, nggak ada susu.
A: *senyum* Jus ajah.
Q: Jus apa Dok?
A: Apa aja, ganti2.
Q: Kalo jus buah yang mengandung kalsium apa Dok?
A: Dulu sih sempet ada yang
fortified with calcium. Tapi sekarang disini nggak ada. Lagipula, kembali lagi jadinya nggak alami. Mending jus buatan sendiri aja.
Q: Nggak takut teeth decay ya Dok? Minum jus gitu?
A: Asal bikin sendiri dan bukan untuk malam nggak papah kok.
Q: Ooo gitu.. Kalo benefit susu yang lain gimana kalo nggak ada/nggak ditambah?
A: Ya, dari makanan :)
That's my doctor! Yang rekomendasi selai kacang dan paham bedanya canola, olive dan flax seed oil. Yang bangga dan senyum simpul ketika kita baru masuk dan nyerocos "Doookk.. Sembuh kemaren demam dan batuknya. Akhirnya bisa RUM juga!" Hahaha. Walau di saat ngomong itu agak jleb karena doi cuma senyum doang, tapi aku sayang padamu.
Produk Lactose Free sebenernya banyak. Apalagi susu formula Lacto Free. Tapi, rasanya menurut Bu Dokter belum tentu Litu suka. Karena Litu udah pinter dan udah tau rasa enak. Terus pertimbangan formula di atas juga perlu dipertimbangkan.
Kapan itu liat UHT Lactose Free di Kemchik. Ukuran UHT Ultra yang gede gitu deh.. Harganya 120rb ajeh. Tapi yah, kalau itu yang terbaik.. Apa boleh buat. Nanti setelah 2 minggu di tes gagal, dicobain dulu deh si mahal. Toh Lituhayu has been very generous nggak menyebabkan me and Tumbe ngeluarin uang banyak untuk Susu Formula :D
On
Lactose Intolerance, ternyata genetik yah. Emang sih Eyang Koes nggak suka susu dan bilang kalo minum susu perutnya nggak enak. Terus, the legendary story yang menjodohkan kami bertiga (Pakde Ninot, Bude Ninit dan Mimi Nita) dengan Prof. DR. Moeslich*n adalah ketika mini Pakde Ninot diare sampe 26x (?) dan susunya suruh diganti yang lactose free.
Nah. Masuk akal semua jadinya.
Kalau ada saran-saran untuk masalah ini mau yaaa ibu-ibu :)
*keluarin Philips Hand Blender*