Laki-laki v. Perempuan

Helloow.. Just back from.. A veeeeery big and long fight with le husband. Hahah doesn't sound cool at all!

Jadi, beberapa minggu belakangan ini agak berat yahh idup saudara-saudara. Mayan deh.. Bawaannya pengen ngruwes yang bisa dikruwes-kruwes. Untung wiken kemarin semua masalah terselesaikan a.k.a case closed dan tadi pagi udah mulai ceriwis lagi bahas yang kurang penting. Contohnya: Nanti waktu Litu SMA izin pulang malemnya jam berapa? Pake supir nggak? Dikasih mobil apa dipinjemin mobil? Kemudian ditutup dengan perkataan: "Duile, kayak punya duit aje beliin mobil hihihi".

Anyway, tadi malem, to conclude our weekend [and our big fight], I talked to Tumbe in light tone.

Kalau perempuan itu: moody, emosian, irasional, cerewet, and all those labels, it's their privilege (if you don't want to call it as rights). Why?

  1. Because of the hormones. Yang mana as predicted, ditolak mentah-mentah oleh Tumbelina. Tapi apa boleh dikata Tumbe, ada 2 miliar article (scientific or not) yang membahas PMS, Menopause, Preggo, Baby Blues dan lain sebagainya yang kaitannya dengan hormon :) Yah boleh lah argumen yang ini di anulir. Tapi..
  2. We manage everything! Kalau secara tradisional perempuan ngurus yang kecil-kecil sedangkan kepala rumah tangga urus yang besar-besar dan menafkahi istri lahir bathin. Tapi sekarang? Yang besar-besar dimanage bersama sementara yang kecil-kecil ya tetep bini yang turun tangan. Manalah mau suami bikin research tentang kandungan gizi mana yang lebih besar, ubi atau kentang dan demikian mana dulu yang sebaiknya dikasih ke bayi? Nehi. Nada. Nope.
  3. There are conditions, that undeniably different. In our case: sama-sama pulang malem, suami ganti baju, cuci-cuci, makan, main sama anak atau ngeliat anak tidur, bobok. Istri? Ganti baju, cuci-cuci, makan, main sama anak atau ngeliat anak tidur, mompa sambil ngantuk selama 1 jam. Suami terlelap, Istri masih emosi. Cih! Pengen nepok nyamuk di jidat suami pake tenaga 2000 horsepower nggak sih kalo begitu?
Tapi, kalau laki-laki harus dihargai, keputusannya adalah penentu, itu juga privilege mereka. Karena:
  1. Mereka kepala rumah tangga. And that's a self-explanatory.
There. I rest my case.


Nanti siang jadi lunch bareng? *kutekan*

5 comments:

annisa said...

haa..ini lucu..aku weekend kemaren posting soal hal yg sama..mungkin, secara naluriah udah ada 'dari sononya'.. :) toss ya nita..

Meta said...

Hear hear!
iyaa kenapa sih lelaki itu ngga mau terima klo hormon itu beneran ada efeknya pada level kesensian perempuan? it's there and it's real! live with it because it's our privilege *curhat ya mba meta?*

PoppieS said...

perempuan punya hormon DAN intuisi. ini dua hal yang laki2 gak pernah ngerti.

dewpratiwi said...

Iya banget mba nit!!! There's our privilege. . Hahaha *curahan hati istri

si risti said...

sabaaar... sabar ya nduk. nih *kasih raket nyamuk*

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
The disclose diary of mine © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects