Common Cold

Sejak Litu ulang tahun sampai detik ini, Litu BATUK!

Nggak ada jeda sama sekali. Berarti udah mau dua bulan yah batuknya. Ihhh.. Gemesss..

Maka, berkeliaranlah kami ke beberapa dokter ibukota. Dr. Y, Dr. HS, Dr. Sander dan terakhir Prof. Bambang Supriyatno. Untuk apa? Penegakan diagnosa sebenernya sakit apa sih si Gendhuk Ipel Ipel?

Anaknya sendiri gimana? Lengkap. Dari biasa aja, batuk-batuk kecil, batuk-batuk berat, radang tenggorokan, demam tinggi, sumeng, sembuh, pilek, grok-grok, wheezing. Semua silih berganti selama hampir dua bulan ini. Berat badan sempet drop 1/2 kilo. Mak! 1/2 kilo deh. Tapi dalam 1 minggu beratnya yang defisit 1/2 kilo itu udah balik 400 gram. Iyeayy!

Prosesnya cukup mengelus dada ibunya.

Mau coba recap ya. Karena percayalah, di antara penyakit-penyakit lain. Mungkin Common Cold yang paling menimbulkan friksi internal. Dokter muda nggak kasih obat, dokter senior kasih puyer. Mama santai, Eyang panik. Yang tua mikir "Ini anak sakit kok didiemin aja sih sampe begitu batuknya. Orang tua aja batuk nggak enak apalagi bayi". Yang muda mikir "Ya, kan Common Cold self limiting desease. Sembuh sendiri karena penyebabnya virus. Udah ke dokter jugak kok..". Berani tarohan, pasti bukan cuma disini kejadiannya :D

dr. Y
Karena kita (me and Tumbe) tipe yang begitu anak demam sedikit bawa ke dokter tapi jauh di lubuk sanubari juga pengen menerapkan Rational Use of Medicine (RUM), kita pilih dr. Y sebagai dokter anak Litu. Kenapa? Karena dia cantik kata Tumbe RUM berat. Jadi, walau kita bawa ke dokter nggak nunggu 3 hari, penanganan tetap RUM dan kitanya rada tenangan lah yah :)

Seperti biasa, menurut dr. Y ini Common Cold. Nggak perlu obat. Alergi dingin/debu? Ya dihilangkan sumber alerginya. Bukan dicari obatnya.

dr. HS
Dokter anak Tumbe waktu kecil sampe SMA. Kata Pak Dokter, penanganan mayan terlambat. Harus nebulasi dan minum puyer. Gejala Asmatis dan Bronkhiolitis.

dr. Sander
Kita cari third opinion. Dan sengaja cari yang nggak RUM RUM banget lah. As far as I know, dr. Sander masuk kategori ini. Dese bukan garis keras ASI atau RUM. Kenapa milihnya gitu? Ya karena kalo kita ke dr. Endah atau dr. Wati dapat dipastikan Litu Common Cold. Lalu apa kata doi? Common cold! Yeayyy! Begitu habis periksa, dengan super cepat dia bilang: "Oke, Litu.. Nggak perlu obat demam, nggak perlu obat alergi, nggak perlu obat batuk." Terus Mama Litu sedikit maksa untuk minta obat batuk dengan mengetengahkan diagnosa dr. HS. Dijawab ringan "Ya.. Kalau mau kasih obat batuk kasih ini deh Prospan. Ini terbuat dari daun-daunan". Puyer nggak usah, nebul nggak usah.

Habis itu Litu kena bakteri lain lagi yang menyebabkan demam. Kali ini radang tenggorokan. Baru setengah hari anget, langsung dibawa ke dr. Y. Eh, ternyata beneran nggak usah tunggu 3 hari demam loh. Buktinya, ini begitu dibawa ke dr. Y yang super RUM langsung dikasih antibiotik. Soalnya obvious (tanpa perlu cek lab) amandelnya ada selaput putih dan membesar. Untung nggak nunggu 3 hari demam kan hehehe.

Shit happens. Udah lah dijaga-jaga supaya nggak kena antibiotik. Akhirnya dapet antibiotik.. Eeeh.. Dosis pemberiannya salah. Di hari ke-5 yang harusnya antibiotik habis, masih sisa 1/4 botol. Ada yang salah disini. Ternyata, selama ini yang harusnya 0.5ml dikasihnya 0.25ml. Rasanya mau jedotin kepala deh. Kan di petunjuk antibiotiknya ada tulisan HABISKAN. Ini kalo ngabisin harus lewat dari 5 hari petunjuk dokter dong? Abisin aja? Stop aja karena 5 hari? Berenti kerja aja?

Lagi galau, di Hari Hari ketemu dokter umum yang RUM juga. Langsung tanpa malu-malu nyamperin. Dan doi lupis sama akik. Hahahahah. Nanya tentang salah dosis antibiotik. Dia jawab: nanti sms saya antibiotiknya apa. Kalau perlu ditambah antibiotik lain yang adequat dan habiskan lima hari. Lemes jonih!

Sampai rumah sms dr. Y dan katanya kalau demamnya sudah berhenti, antibiotik bisa stop aja. Fiuhh.. Belakangan tentang salah dosis antibiotik ini jg ditanyain ke Prof. BS. Katanya "Ya kalo kurang nggak papa. Yang nggak boleh itu berlebihan. Kalau kurang itu paling bakterinya dikilik-kilik aja" hihihi. Begitu ibu-ibu.. Kalau ada yang salah dosis (kesedikitan antibiotik) ini jawabannya yaa..

Setelah heboh-heboh. Eh, malemnya Litu nafasnya wheezing. Aduh! Kok wheezing sih? Balik lagi kita ke dr. Y. Katanya, ini virus baru lagi. Beda sama batuk kemarin. Kasian amat sih kamu sayang?

Setelah seminggu di nebulasi dan kasih obat batuk. Grok grok dan batuk masih ada. SMS lagi ke dr. Y. Jawabannya: "Coba konsul ke Prof. BS. Beliau ahli paru anak. Praktek di RSPI jam 5-8 mlm." Lalu kita berdua menatap meja makan dengan nanar.... Kenapa harus ke ahli paru? Kenapa dr. Y refer ke dokter lain? Kenapa ya?

Prof. BS
Tegang amat deh. Apalagi doi joke-nya suka bikin mau masuk ke bumi. Seperti:
lagi diperiksa
Prof: "Wah ini sih sudah pasti."
Me: "Pasti apa Dok?"
Prof: "Ini sih jelas ada paru-nya. Di rumah ada yang batuk darah nggak?"
Me: "Hah? Enggak Dok. Tapi pengasuhnya ganti-ganti sih.."
Prof: "Yah, mau bagaimana lagi? Yakin nggak ada yang batuk darah yah? Tapi jelas nih ada paru-nya. Nggak perlu rontgen atau tes lain saya sudah pastikan ada paru."
Me: *protes kecil* "Tapi beratnya naik terus Dok."
Prof: "Sigh... Yah tapi nggak papa. Bagus lah kalo dari kecil udah ada paru-nya begini. Kalo nggak ada.. NGGAK BISA NAPAS DONGG!!"
Me and Tumbe langsung: SAIIIIKKKKKK!!!!!!!!!! *sambil mau nangis

dan joke-joke lain seperti: "Tidurnya jangan telentang, nanti nggak bisa nafas." | "Oh gitu Prof? Selama ini telentang dia" | "Nggak berenti nafasnya?"| |"Nggg.. Enggak si Dok."| "Hebat yah udah NELEN TANG masih bisa nafas"| ......................

Akhir kata, Litu kenanya Common Cold dan nggak perlu obat sebetulnya. Tapi karena udah lama ya udah deh dikasih obat batuk dan obat lambung. Eh kenapa lambung? That deserves another post :D Udah panjang iniii..

Asmatis kemungkinannya 1: 200 anak dan hampir nggak mungkin. Bronkhiolitis kalo beneran anaknya musti di ICU.

*usep keringet*

9 comments:

Bonnita said...

wakakaka itu prof agak agak jayus ya hihi.. bikin sport jantung aja..

wah sama banget sama aku, nyokap jg protes kalo anakku pilek didiemin, katanya kasian.. padahal sembuh sendiri.. anaknya jg masih ceria..

ooh aku pikir si dr Sander itu RUM keras.. ternyata ada yang lebih keras ya.. dulu anakku ke dr Hari Martono buat vaksin, karena pas lagi sakit ke dr Sander dan dia santai banget, ga dikasih obat apa2, ktnya anaknya bae2 aja ntar jg sembuh, nyokap gua protes.. udah mahal2 gak dapet obat katanya.. hehehe

cepet sembuh ya Litu

risti hends said...

jadi sakit apaan sebenernya pus? common cold campur paru gitu?

Nita said...

@Bonnita: aku rada jedang jedung gitu deh di tempat praktek hahaha. iya Sander mild lah dia hihi. Tengkiu yaa :*

@Risti: jadinya GER ti. lambung2 gitu deh. untung bukan paru sih :D

PoppieS said...

OMG bisa aku yang suntik kalo dokternya gitu... AKKKK!!!

Cepet sembuh Titu..

ini_dhita said...

Nit
Dl si @darina_danil jg anaknya kayak litu deh. Dia jg share di blog. Ke dr.BS jg. Gw ampe apal joke si dokter itu2 aja kayaknya deh hahaha. Tp ttp ketawa si bacanya :p

Get well soon yah lituuu :* smoga nothing serious ya. Lanjut baca post slanjut nya.

ria astuti-magita said...

Hai, nita... salam kenal ya :) haduh... joke nya pak dokter BS jadi pengen ikutan nelentang deh :) semoga litu cepat sembuh ya... salam kenal dari fatih naura naila but litu ya

Dian said...

Nita boleh tau ga dokter Y praktik dimana...? Namanya dokter siapa? Thanks

Nita said...

@poppies: yuk rame2 kita suntik pak dokter sampe nelen tang hihihi

@dhita: hahaha joke-nya itu2 aja ya ternyata. geblek..

@Ria: salam kenal. iyah, di ruang praktek langsung pengen masuk bumi ajah pas dibecandain. untung manjur. ga sampe 2 hari grok2nya kelar :)

@dian: dr. yovita ananta di rspi :)

Nita said...

d

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
The disclose diary of mine © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Buy Dofollow Links! =) , Lastminutes and Ambien Side Effects